CINTA…(kata orang…)

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita. Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba.

Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup.

Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya. Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seseorang, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU. Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan. Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian… dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.

Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya. Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

PAID IT FORWARD

Pernah gak mendengar judul film diatas? Kalau gak salah pemerannya adalah Helen Hunt. Filmnya lumayan bagus idenya mengenai perbuatan baik kepada orang lain yang kemudian balasannya dari perbuatan baik tersebut adalah melakukan perbuatan baik lagi kepada orang lain. Konsep dari “Paid it Forward” adalah mirip konsep MLM, dimana kita harus mencari tiga orang kandidat lagi untuk kita membalas perbuatan baik tersebut sehingga tercipta reaksi berantai.

Walaupun ending nih film sedih karena si anak yang menggagas hal tersebut meninggal ditusuk teman sekolahnya sendiri karena menolong temannya yang di ganggu tersebut but at least menuntun kita akan sedikit pemikiran bahwa jika kita melakukan kebaikan kepada orang lain kemudian kita meminta orang tersebut jika ingin membalas kebaikan kita tersebut harus membalasnya kepada orang lain yang sangat membutuhkan sehingga jika semua orang melakukannya membuat dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik. Memang melakukan hal tersebut terasa sulit dizaman yang makin sekuler ini, dimana penuntutan hak pribadi makin menjadi-jadi, tetapi itu bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Dengan mengutip kata-kata dari film tersebut bahwa “it takes brave act to do that”. Kita membutuhkan keberanian dan kepercayaan yang sangat besar untuk bisa melakukannya.  Sebenarnya jika mengacu kepada islam hal itu telah menjadi kewajiban kita, sebagai ummat Muhammad, kita diwajibkan melakukan perbuatan baik bahkan kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Kita menganggap konsep tersebut mengada-ada, padahal itu adalah konsep internal kita, konsep dasar kita sebagai manusia yang nota bene adalah makhluk sosial.

Yup semua berpulang kepada kita semua, ini hanyalah sebuah penggugah saja sudah sejauh mana kita melakukan perbuatan baik tanpa pamrih.

IT TAKES EXTREME ACT OF FAITH TO DO THAT ACT…..

HOW TO MAKE PEOPLE SAY WHAT IN THEIR MIND

Mungkin pernah terpikir bagaimana sih untuk mengetahui apa yang ada di alam pikiran seseorang terlebih lagi tentang diri kita, tentang gagasan kita, atau bahkan pikirannya tentang orang terdekat dengan kita.
Menurut David J. Lieberman, kita dapat melakukan teknik “membaca pikiran” yang sesungguhnya dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa prinsip psikologi. Mungkin kita telah secara tidak sadar melakukannya ketika ada seseorang yang anda duga tidak secara jujur mengatakan sesuatu kepada anda.
Upaya untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikiran seseorang memang tidaklah mudah, kita harus berusaha untuk mengarahkan dia agar mau menyukai apa yang ada dipikiran orang. Begitu dia berkata bahwa dia menyukainya, jangan mendesak atau menekannya karena terkadang inilah kesalahan yang paling sering kita lakukan. Kita biasanya mengatakan “ kamu benar menyukainya? Kamu yakin menyukainya? Kamu benar-benar menyukainya?”. Hal ini akan membuatnya semakin kukuh dengan pendiriannya atau hal yang disampaikannya menjadikannya semakin yakin apa yang menjadi opininya.
Dalam menggunakan teknik ini, anda harus memastikan bahwa kata-kata yang anda gunakan sejalan dengan dia atau apa yang ada dipikirannya dan anda terbuka dengan masukan. Ini menjadikannya terbuka akan segala hal karena akan mengkritik anda dengan bebas karena dia menganggap anda mengharapkannya.
Dua teknik psikologis yang digunakan dalam hal ini menurut David J. Lieberman adalah konsistensi (bahwa manusia membutuhkan kesinambungan dengan pikiran-pikiran mereka) dan harapan (orang sering melakukan apa yang menjadi harapannya).
Dengan mengarahkan pembicaraan yang tidak berfokus pada perasaan suka-tidak suka mereka, maka jawaban mereka akan keluar secara alami sebagai uraian akan apa yang mereka telah katakan, sehingga apa yang ada dibenak mereka akan keluar begitu saja dan tentu saja itulah jawaban jujur dan apa yang ada dipikiran mereka.
Hal yang perlu diingat:
Jika anda ingin mengetahui pikiran sesungguhnya dari seseorang tetapi dia tidak ingin membicarakan keburukan dirinya atau orang lain maka janganlah anda bertanya seperti ini:”Apakah yang tidak kamu sukai dari hal itu?” atau “kekacauan apa yang bisa kamu temukan dari pekerjaannya?” tetapi bertanyalah “Bagaimana jika seandainya kamu yang melakukannya?” atau “apakah akan berbeda jika kamu yang melakukannya?”. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan itu tidak berfokus pada kesalahan yang diperbuat oleh orang lain, tetapi justru menanyakan perbaikan yang bisa dilakukan oleh lawan bicara anda yang mana hal ini memberikan jawaban kepada anda tentang apa yang ada dibenak mereka tentang kesalahan-kesalahan tersebut.
Sehingga kesimpulannya adalah arahkan mereka agar menyukai gagasan, orang atau obyek kemudian tanyakan saja ide perbaikan yang bisa dia tawarkan.

Assikalaibineng

Pas kebetulan lagi dimakassar sempat-sempatin jalan-jalan ke MTC, biasalah nyari DVD program trus nyari DVD film baru yang dah ada “bajakannya” *lirik kiri n kanan*

yap, itu mungkin hobby yang gak baik suka beli bajakan walaupun ada penjelasan logisnya and gak logisnya tapi kalau diliat dari UU anty piracy pastilah gak ada selanya.*maapkan kami para produsen*

sebenarnya kalau lagi di Makassar maka selain dua hal diatas saya juga hobby baca jadi sasaran berikutnya pasti adalah TB. Gramedia yang menyediakan lots of books. Tapi gak bisa hari itu karena sudah keburu malam sekali jadi diputuskan untuk melakukan hunting besok sore saja.

Jam menunjukkan 4.00 p.m saya dah menuju MaRi Mall yang ada TB. Gramednya, sebenarnya ada juga sih di MP tapi kalo disana walopun dekat dari rumah tapi terlalu ramai jadi tempat favorit yah di MaRi Mall.

Abis parkir motor trus langsung ke lantai 2 karena gramedia pas depan tangga eskalator lantai 2, masuk pintu trus langsung nitip jaket n tas trus menuju ke bagian komputer nyari buku yang menarik, tapi rasanya gak ada so, pindah lagi ke bagian buku yang lagi trend, nah pas lagi keliling disitu mata saya tertuju pada satu buku yang berjudul “Assikalaibineng”, tuh buku mencolok mata karena judulnya yang gak biasa, gak biasanya itu dari segi bahasa, nah pas didekati benar tuh buku memang bukan buku biasa tapi khusus yang udah 17 taon keatas atau “dewasa”. Pengennya baca tapi rupanya semua buku tersebut blom ada yang terbuka plastiknya.

Sebenarnya inti dari buku tersebut mirip dengan kamasutra, (Kamasutra – sebuah buku pengetahuan seks hindu kuno yang di tulis oleh Vassyayana, kini begitu di gandrungi. Edisi terbarunya yang juga di tulis dalam bahasa Inggris, jadi trend bagi orang-orang barat untuk melakukan seks dengan filosofi tinggi. Kamasutra adalah seks masa depan. Bagaimana dengan di Indonesia sendiri ? benarkah para raja Jawa memilih kitap asmorogomo sebagai panutan seksnya?. Untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas. Kamasutra memang komplit dan tetap relevan digunakan hingga saat ini. Buktinya seni bercinta ala Hindustan itu makin populer. Beragam gaya bercinta dengan filosofi yang begitu dalam kini tengah menjadi tren di kalangan orang-orang barat).yaitu bagaimana cara “making love” yang khusus untuk orang suku bugis, makanya saya sempat bertanya-tanya apa memang ada rahasia bercinta yang sama dengan kamasutra untuk suku bugis?yang mirip kitab Asmorogomo untuk raja-raja jawa?. Dari buku tersebut benar menerangkan hal itu walaupun hanya sampul belakangnya saja yang saya baca….

Sebenarnya masih penasaran sih dengan buku itu,tapi karena saya bukan reviewer yang baik jadi blom bisa menerangkan hal tersebut. oia, apa ada teman-teman yang tau tuh isi buku?

PANCASILA VERSI BAHASA DAERAH

Versi Logat Makassar juga ada tonji……. ……

Pancasila limadaasar.. ..!!
Se’re: Tena aganna injo Tuhanga
Rua: Teaki pacalla-calla siagang adilki”
Tallu: Se’reji anjo Indonesia
appa’. Punna nia’ masalah ni musawarahkangi teaki pa’bambangan na tolo
lima: Anjo keadilang sosialka’ ni ratakangi

he he he he..,
Dalam rangka memeriahkan HUT RI tahun 2007, dan sehubungan dengan otonomi daerah, maka di setiap upacara pengucapan Pancasila dilakukan sesuai bahasa daerahnya . . . .

Pancasila (Jawa)
siji: Gusti Alllah ora ono koncone
loro: Dadi wong kudu sing adil lan ojo kejem-kejem
telu: Indonesia bersatu kabeh
papat: karo tonggo-tonggo nek ono masalah diomongno bareng-bareng opo o
limo: mangan ra mangan sing penting kumpul

Pancasila (Sunda)
hiji: Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan
dua: ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda-beda keun..
tilu: Indonesia kuduna mah jadi hiji
Opat: Ra’yat Indonesia sae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun
heula. Kedah bager lan bijaksana
Lima: Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur.

Pancasila (Batak Toba)
Sada: Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
Dua : Maradat tu sude jolma
Tolu : Punguan ni halak Indonesia
Opat : Marbadai … marbadai, dungi mardame
Lima : Godang pe habis saotik pe sukkup

Poncosilo (jawa kromo)
kaping setunggal: Gusti ingkang Maha satunggal
Kaping kalih: Tiang ingkang Adil lan beradab
kaping tiga: persetunggalan Indonesia
kaping sekawan: Kerakyatan ingkang dipimpin kaliyan hikmat lan
kewicaksonoan dateng permusyawaratan kang diwakilkan.
kaping gangsal:Adil kang sosial kangge sakabehe tiang Indonesia

Pancasila (Palembang)
sute: Tuhan ne sute tu’la
due: jelme harus khapat same rate
tige: jelme Indones iane bersatu padu
empat: jeleme Indonesiane diketuci ngai hikmah dimane ngedapatkan
jawaban dadi gegale masal ah
Leme: kesameratean hidup ne jelmekangok Indonesia…

Pancasila (Ambon)
1. Torang samua tawu cuma ada Tuang Allah yaitu Tete manu…
2. Orang ambon samu harus tau adat
3. acang deng obet harus bisa bakubae
4. Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat
5. samu harus bisa jaga diri karna ambon lapar makan orang…….

Pancasila (Manado)
1. Cuma boleh ba satu Tuhan
2. Selalu adil kong ja pake ontak
3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia
4. Tu rakyat musti slalu bakumpul kong bicara bae-2 spy slalu ada
kaputusan gagah yg semua trima deng nang hati.
5. Voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu jabaku kase beda-
Beda perlakuan.

Pancasilo (Padang)
ciek: Bintang Basagi Limo
duo: Rantai pangikek kudo
tigo: pohon baringin gadang ta’mpek kito bacinto
ampek: kapalo banteng bataduk duo
limo: padi jo kapeh pambaluik nan luko..

MERDEKAAA!!! !!!!!!!!! !!!!!!!!! !!!

Emotional Blackmailers

I’ve get shock when my friend saying that people have tend to use blackmail in emotion relationship, i am not thinking of it that moment but there something making me rethink about what she said to me so, i went to googling and found this writing about the blackmailer. Hopefully we could more understand of it. Emotional Blackmailers: “Threaten to make things difficult if you don’t do what they want. Constantly threaten to end the relationship if you don’t give in. Regularly ignore or discount your feelings and wants. Tell you or imply that they will neglect, hurt themselves, or become depressed if you don’t do what they want. Shower you with approval when you give into them and take it away when you don’t. Use money as a weapon to get their own way”. Emotional blackmail is a powerful form of manipulation in which people close to us threaten (either directly or indirectly) to punish us if we don’t do what they want. At the heart of any kind of blackmail is one basic threat, which can be expressed in many different ways: If you don’t behave the way I want you to, you will suffer. A criminal blackmailer might threaten to use knowledge about a person’s past to ruin her reputation, or ask to be paid off in cash to hide a secret. Emotional blackmail hits closer to home. Emotional blackmailers know how much we value our relationship with them. They know our vulnerabilities. Often they know our deepest secret. And no matter how much they care about us, when they fear they won’t go their way, they use this intimate knowledge to shape the threats that give them the payoff they want: our compliance. Knowing that we want love or approval, our blackmailers threaten to withhold it or take it away altogether, or make feel we must earn it. For example, if you pride yourself being generous and caring, the blackmailer might label you selfish or inconsiderate if you don’t accede to his wishes. If you value money and security, the blackmailer might attach conditions to providing them or threaten to take them away. And if you believe the blackmailer, you could fall into a pattern of letting him control your decisions and behavior. We get locked into a dance with blackmail, a dance with myriad steps, shapes and partners. Emotional blackmailers hate to lose. They take the old adage “It doesn’t matter if you win or lose, it’s how you play the game”, and turn it on its head to read “It doesn’t matter how you play the game as long as you do not lose.” To an emotional blackmailer, keeping your trust doesn’t count, respecting your feelings doesn’t count, being fair doesn’t count. The ground rules that allow for healthy give-and-take go out the window. In the midst of what we thought was a solid relationship it’s as though someone yelled “Everyone for himself!” and the other person lumped to take advantage of us while our guard was down. Why is winning so important to blackmailers, we ask ourselves. Why are they doing this to us? Why do they need to get their way so badly that they’ll punish us if they don’t? Below are some specific ways to answer the most common types of responses. It can’t emphasize too strongly how important it is to practice saying these statements until they feel natural to you. How to respond to the other person’s catastrophic predictions and threats. Punishers and self-punishers may try pressuring you to change your decision by bombarding you with visions of the extreme negative consequences of doing what you’ve decided to do. It’s never easy to resist the fear that their bleak vision will come to pass, especially when the theme they’re pounding home is “Bad things will happen – and it’ll be your fault.” But hold your ground. When they say: Then you say: If you don’t take care of me, I’ll wind up in the hospital/on the street/unable to work. * You’ll never see your kids again. * You’ll destroy this family. * You’re not my child anymore. * I’m cutting you out of my will. * I’ll get sick. * I can’t make it without you. * I’ll make you suffer. * You’ll be sorry. * That’s your choice. * I hope you won’t do that, but I’ve made my decision. * I know you’re very angry right now. When you’ve had a chance to think about this, maybe you’ll change your mind. * Why don’t we talk about this again when you’re less upset. * Threats/suffering/tears aren’t going to work anymore. * I’m sorry you’re upset. When they say: Then you say: * I can’t believe you’re being so selfish. This isn’t like you. You’re only thinking of yourself. You never think about my feelings. * I really thought you were different from the other women/men I’ve been with. I guess I was wrong. * That’s the stupidest thing I’ve ever heard. * Everyone knows that children are supposed to respect their parents * flow can you be so disloyal? * You’re just being an idiot. * You’re entitled to your opinion. * I’m sure that’s how it looks to you. * That could be. * You may be right. * I need to think about this more. * We’ll never get anywhere if you keep insulting me. * I’m sorry you’re upset. * How could you do this to me (after all I’ve done for you)? * Why are you ruining my life? * Why are you being so stubborn/obstinate/selfish? * What’s come over you? * Why are you acting like this? * Why do you want to hurt me? * Why are you making such a big deal out of this? * I knew you wouldn’t be happy about this, but that’s the way it has to be. * I here are no villains here. We just want different things. * I’m not willing to take more than 50 percent of the responsibility. * I know how upset/angry/disappointed you are, but it’s not negotiable. * We see things differently. * I’m sure you see it that way. * I’m sorry you’re upset. Handling Silence But what about the person who blackmails through anger that is expressed covertly through sulks and suffering? When they say nothing, what can you say or do? For many targets, this silent anger is far more maddening and crazy than an overt attack. Sometimes it seems as if nothing works with this kind of blackmailer, and sometimes nothing does. But you’ll have the most success if you stick to the principles of non defensive communication and stay conscious of the following do’s and don’ts. In dealing with silent blackmailers, DON’T: Expect them to rake the first step toward resolving the conflict. Plead with them to tell you what’s wrong. Keep after them for a response (which will only make them withdraw more). Criticize, analyze or interpret their motives, character or inability to be direct. Willingly accept blame for whatever they’re upset about to get them into a better mood. Allow them to change the Subject. Get intimidated by the tension and anger in the air. Let your frustration cause you to make threats you really don’t mean (e.g., “If you don’t tell me what’s wrong, I’ll never speak to you again”). Assume that if they ultimately apologize, it will be followed by any significant change in their behavior. Expect major personality changes, even if they recognize what they’re doing and are willing to work on it. Remember: Behavior can change. Personality styles usually don’t. DO use the following techniques: Remember that you are dealing with people who feel inadequate and powerless and who are afraid of your ability to hurt or abandon them. Confront them when they’re more able to hear what you have to say. Consider writing a letter. It may feel less threatening to them. Reassure them that they can tell you what they’re angry about and you will hear them out without retaliating. Use tact and diplomacy. This will reassure them that you won’t exploit their vulnerabilities and bludgeon them with recriminations. Say reassuring things like “I know you’re angry right now, and I’ll be willing to discuss this with you as soon as you’re ready to talk about it,” Then leave them alone. You’ll only make them withdraw more if you don’t. Don’t be afraid to tell them that their behavior is upsetting to you, but begin by expressing appreciation. For example: “Dad, I really care about you, and I think you’re one of the smartest people I know, but it really bothers me when you clam up every time we disagree about something and just walk away is hurting our relationship, and I wonder if you would talk to me about that.” Stay focused on the issue you’re upset about. Expect to be attacked when you express a grievance, because they experience your assertion as an attack on them as an attack on them. Let them know that you know they’re angry and what you’re willing to do about it. For example: “I’m sorry you ‘re upset because I don’t want your folks to stay with us when they’re in town, but I’m certainly willing to take the time to find a nice hotel for them and maybe pay for part of their vacation.” Accept the fact that you will have to make the first move most, if not all, of the time. Let some things slide These techniques are the only ones that have a chance to interrupt the pattern that’s so typical of a silent, angry blackmailer, the cycle that goes “Look how upset I am, and it’s all your fault. Now figure out what you did wrong and how you’re going to make it up to me.” I know how infuriating it is to have to be the rational one when you feel like strangling the other person, but it’s the only way I know to create an atmosphere that will allow change to take place. Your hardest job will he to stay non defensive and to convince the quietly angry person that it’s OK for them to be angry when they’ve spent lifetime believing just the opposite. Information on this page comes from: Emotional Blackmail : When the People in Your Life Use Fear, Obligation and Guilt to Manipulate You by Susan Forward.

EGO IS THE RELATIONSHIP KILLER

Waktu lagi menunggu motor diperbaiki di bengkel, iseng-iseng duduk membaca majalah yang ada di ruang tunggunya, majalahnya sih sudah usang karena sudah gak bersampul lagi, halamannya sudah pada hilang alias tidak lengkap lagi, gak tau sudah berapa banyak orang yang membaca majalah tersebut lagian juga majalahnya gak tau terbitan tahun kapan, pokoknya mengharukan sekali keadaan majalah tersebut, majalahnya bergenre remaja karena bahasanya gaul dan tata letaknya yang full colour….
Pas lagi buka-buka halaman yang kadang sudah hilang, sobek atau bolong-bolong habis tergunting, mata saya tertumbuk pada satu buah tulisan yang menitik beratkan pada gengsi, dengan istilah seperti judul diatas, “ego is the relationship killer”.
Saya jadi berpikir yah memang sih jika kita lebih mengutamakan sikap egois kita maka sedikit demi sedikit hubungan kita akan tergerus oleh arus erosi perasaan orang lain terhadap kita atau terjadi pendangkalan rasa karena ditimbuni oleh lumpur arogansi kita. Sehingga ketika aliran rasa sudah mengalami penyumbatan yang tebal akibat polusi ego menyebabkan kita tidak lagi merasa “peduli” dengan apa yang ada didalam hubungan kita dan akibatnya adalah berakhirnya hubungan tersebut.
Hal itulah yang menyebabkan besarnya angka PHK (pemutusan hubungan kasih), hal ini bukan dikarenakan mereka telah kehilangan rasa suka satu sama lainnya, tetapi lebih kepada terlalu tingginya kadar keAKUan kita sehingga rasanya dengan ada atau tidaknya dia disisi kita gak berpengaruh apa-apa terhadap diri kita atau lebih tepatnya pada ego kita.
Jadi apa yang menjadi kesimpulan jika kita mengalami hal diatas?, kita haruslah banyak mengembangkan sikap positif, yaitu selalu mengambil sikap there’s something behind the screen, bahwa mungkin ada hal-hal yang menyebabkannya seperti itu, ada sesuatu yang menjadikannya seperti itu, dengan sikap positif tersebut kita bisa merengkuh sampai kedasar hatinya serta mencari apa yang menjadi kendala didalam diri kita ketika sedang bersikap egoistis. Terkadang kita tidak merasakan bahwa kita telah bersifat egois, baik bagi diri sendiri ataupun kepada orang lain dan ketika kita melakukannya secara tidak langsung kita telah menganiaya diri sendiri.

Unbreakable man

Pernah gak menonton film berjudul “Unbreakable” yang pemerannya adalah Bruce Wilis, film yang menceritakan seseorang yang tidak pernah sakit, dan memiliki kekuatan diatas rata-rata orang biasa. Kemudian ada orang yang seumur hidupnya adalah kebalikan dari apa yang dimiliki oleh tokoh Bruce wilis tadi. Dia hanya orang sederhana yang selama hidupnya mencari orang yang kebalikan dari dirinya tadi.

Sebenarnya bukan film itu yang ingin saya bahas, hanya saya merasa ada kemiripan dengan film tersebut, maksudnya selama hidup yang saya jalani ini belum pernah tuh ada keinginan yang dikabulkan Nya, semua hal yang saya inginkan dan usahakan gak pernah ada hasilnya. Kemudian suatu waktu saya bertemu seorang teman yang segala keinginannya selalu terpenuhi, apapun yang dia minta kepada Nya akan dikabulkannya. Ketika kita lagi ngobrol tentang hal tersebut, saya jadi teringat akan film tersebut.

Sebenarnya bukan mau menghujat karena saya tahu Allah menyimpan hal yang terbaik untukku, tapi rasanya sangat menyakitkan jika menginginkan sesuatu hal yang tidak bisa terpenuhi, walaupun sudah berusaha sekuat-kuatnya untuk bisa mendapatkannya. Sedangkan orang lain dengan mudahnya bisa mendapatkan hal tersebut.

Barangkali Allah merasa tergoda untuk mengetahui sejauh mana kita bisa “sabar” didalam ujiannya, dengan itulah ia melatih kita menjadi manusia yang “taqwa”. Karena barangkali pula jika orang-orang yang mendapat kemudahan dari Nya (semisal semua keinginannya terpenuhi), apabila tidak dipenuhi maka orang tersebut akan menjauhi Allah. Sedangkan orang yang di”goda” Allah untuk mempertahankan kesabarannya akan selalu diuji dengan hal-hal yang sangat diinginkannya tetapi tidak diberikan.

Saya jadi sedikit sadar ketika mendengar petuah bijak seperti ini, ada dua orang yang sangat saleh sedang diberikan oleh Allah amalannya ketika hendak masuk sorga, yang satu lebih banyak dibandingkan yang lainnya, sehingga bertanyalah orang yang mendapat amalan sedikit.

“Ya Allah mengapa amalan yang saya terima sangat sedikit dibandingkan dia padahal kami sama-sama beribadah kepadaMu?”

Kemudian Allah menjawab

“karena ketika didunia engkau ingin disegerakan untuk diberikan amalanmu, sehingga semua yang kau dapatkan di dunia itulah amalanmu”

Saya gak menyarankan untuk gak meminta disegerakan balasan dari amalan-amalan kita, hanya saja marilah kita berfikir bijak dengan mencermati segala apa yang diberikannya dengan berdasarkan niat positif, karena kalau kita mau mengembalikan ke asalnya bahwa kita ini adalah hamba, dan tidak ada sama sekali hak yang menyatakan seorang hamba mengatur tuannya. Hanya saja kita adalah hamba yang merdeka, hamba yang dibarikan kebebasan sepenuhnya untuk melakukan segalanya.

Sehingga berpulang kepada kita untuk bersikap arif dan bijaksana. Seperti kata orang bijak”

LIFE is continual process of remaking ourselves”

YANG TERTAHAN DARIMU

Sesungguhnya, jika Allah menahanmu dari mendapatkan sesuatu, itu bukanlah karena Dia bakhil, khawatir kehilangan perbendaharaan-Nya, atau menyembunyikan hak mu. Akan tetapi itu adalah karena Dia ingin kamu kembali kepada-Nya. Dia ingin memuliakan mu dengan tunduk pasrah kepada-Nya, menjadikanmu kaya dengan faqir kepada-Nya, memaksamu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, menjadikanmu dapat merasakan manisnya ketundukan dan kefakiran kepada-Nya setelah merasakan pahitnya terhalang dari sesuatu.
Supaya kamu memakai perhiasan ‘ubudiyah (ibadah), menempatkanmu di kedudukan yang tertinggi setelah kedudukanmu dicopot, supaya kamu dapat menyaksikan hikmah-Nya dalam qudrah (ketetapan)Nya, merasakan rahmat Nya dalam keperkasaan Nya, merasakan kebaikan dan kelembutan Nya dalam paksaan Nya, dan bahwa sebenarnya tidak memberiNya adalah pemberian, pencopotan dari Nya adalah penguasaan, hukuman dari Nya adalah pengajaran, ujian dari Nya adalah pemberian dan kecintaan, dikuasakannya musuh – musuh mu atasmu adalah yang akan menggiringmu kepada Nya.
Dikutip dari buku : Penawar Lelah Pengemban Da’wah, Dr. Abdullah Azzam
———————————————————————————————–
Setiap terjangan nasib, disetiap kelokan takdir, disetiap tanjakan iman, ada makna yang disimpankanNya, hanya saja kita terlalu gelisah menengadahkan tangan meminta pengabulan tanpa mencari tahu kenapa Dia menahan semua munajat kita.

Kita memasrahkan semua kepadaNya padahal dalam timbunan hati kecil kita memekikkan jerit agar apa yang kita minta harus terkabulkan olehNya. Kita dengan naif berkata “aku telah menjalankan semua perintahnya, menunaikan semua kewajibanku…sekarang mana balasan atasku?”

Biarkan saja air mata kita menetes untuk setiap rasa sedih atau kecewa atas harapan – harapan kita yang belum terkabul dan atas semua yang tertahan dari kita. Tapi pada saat yang sama, kembalilah mendekat pada Nya, menengadahkan tangan dan mengharap rahmat Nya, dan melantunkan do’a semoga Allah memberikan yang terbaik dan menguatkan kesabaran hati – hati kita.
INSPIRED FROM UPI POSTED

Apple in the bag

Have you hear of funny story “Apple in the bag”, my friend email me of this story, first i thought it was funny but the more you think the more you will understand that the story teach you about something.

Read that story:

A teacher teaching Maths to seven-year-old student asked him, “If I give you one apple and one apple and one apple, how many apples will you have? “Within a few seconds the student replied confidently, “Four!”

The dismayed teacher was expecting an effortless correct answer (three). She was disappointed. “Maybe the child did not listen properly,” she thought. She repeated, “My boy, listen carefully. If I give you one apple and one apple and one apple, how many apples will you have?”

The student had seen the disappointment on his teacher’s face. He calculated again on his fingers. But within him he was also searching for the answer that will make the teacher happy. His search for the answer was not for the correct one, but the one that will make his teacher happy. This time hesitatingly he replied, “Four…”

The disappointment stayed on the teacher’s face. She remembered that this student liked strawberries. She thought maybe he doesn’t like apples and that is making him loose focus. This time with an exaggerated excitement and twinkling in her eyes she asked, “If I give you one strawberry and one strawberry and one strawberry, then how many you will have?”

Seeing the teacher happy, the boy calculated on his fingers again. There was no pressure on him, but a little on the teacher. She wanted her new approach to succeed. With a hesitating smile the student enquired, “Three?”

The teacher now had a victorious smile. Her approach had succeeded. She wanted to congratulate herself. But one last thing remained. Once again she asked him, “Now if I give you one apple and one apple and one more apple how many will you have?”

Promptly the student answered, “Four!”

The teacher was aghast. “How my boy, how?” she demanded in a little stern and irritated voice. In a voice that was low and hesitating young student replied, “Because I already have one apple in my bag.”

When someone gives you an answer that is different from what you expect. Don’t think they are wrong. There maybe an angle that you have not understood at all. You will have to listen and understand, but never listen with a predetermined notion.