INDIFFERENT

Sudah tiga hari ini kelakuan Kaling agak lain dari biasanya, setiap kali bel sekolah berdentang, maka dengan sigap ia membereskan alat-alat tulis menulisnya dan langsung terbang hingga tak dapat kutemu batang hidungnya dimanapun. Setiap kali kutanyakan jawabannya hanya satu, mirip jawaban para artis ketika ditodong oleh wartawan, “no comment”…. Aku dan kaling kawan sepermainan sejak kecil, bahkan dia lebih pantas menjadi kakak yang selalu mengayomi dan menjadi Partner in crime disetiap aksi nakal kami. Tapi dengan kelakuannya yang super aneh ini membuatku bertanya-tanya kenapa dia, apa dia lagi terlibat dalam urusan utang, tapi setahuku dia paling pantang berhutang…dan satu lagi keanehannya dia selalu menyenandungkan lagu “kau tercipta untukku” dari group music ungu. Apa dia lagi fall in love? Tapi kepada siapa? Kepada Ratna teman sekelas kami yang super seksi? Rasanya tidak karena Kaling bersikap dingin saja waktu Ratna lewat didepannya atau mungkin Sumi anak ibu kantin? walaupun tampilan tubuhnya sederhana tapi dia sebenarnya cantik, cantik alami orang menyebutnya, makanya banyak yang berbetah-betah dikantin walaupun mereka tidak punya uang hanya untuk sekedar mencuri-curi pandang ke anak ibu kantin. Ada sih cewek yang dia taksir, tapi itu waktu kami baru masuk ke sekolah ini, saya kira ia telah melupakannya dan itu sudah dua tahun yang lalu karena sekarang kami dikelas tiga. Nama cewek itu Santi. Ekasanti Purnama Dewi tepatnya. Orangnya memang beautiful in real meaning, cantik, ramah, putih, tinggi dan yang paling mempesona karena dia juga pintar. Hari ini Kaling masih seperti hari lainnya, bel tanda akhir sekolah berdentang,membereskan alat-alat sekolahnya, dan berlalu. Tapi ada yang lain hari ini, pas di ujung pintu kelas dia berbalik menatapku dan memekikkan kalimat “This is show time!” persis pembawa acara kuis di TV. Sore ini adalah hari kegiatan semua ekskul. basket, tari, drama, beladiri, dll. Semua siswa tumplek blek di lapangan sekolah. Tiba-tiba ada suara mirip pengumuman masjid tapi ditimpali dengan music latarnya band ungu. Suara tersebut makin lama makin jelas dan akhirnya semakin jelas ketika sebuah becak lengkap dengan hiasan 17 belas agustusan muncul di depan gerbang sekolah dan yang paling mengagetkanku adalah orang di dalam becak tersebut Kaling dengan gitar butut yang saya tahu persis adalah milik Usman pengangguran sok nyeni yang tempat mangkalnya di pos ronda belakang rumahku ditambah pakaian Kaling ala penyanyi dangdut kawakan yang gak tau dia dapat nyewa dimana. Becak yang ditumpanginya adalah milik Dg. Gassing yang juga saya tahu persis sering mangkal di depan lorong samping rumahnya dan sekarang berubah jadi podium. Disana sini banyak sekali rumbai-rumbai pita warna-warni, di kiri dan kanannya terikat speaker dan rasanya familiar karena memang itu speaker radioku yang sudah tiga hari dipinjam kaling, tetapi warnanya agak berbeda ditempeli glitter hingga berkilauan. Saya hanya bisa membatin “what his next crazy idea!” “kupersembahkan lagu ini kepada seorang gadis bernama ekasanti purnama dewi”. Di serak-serakkan suaranya persis pelantun lagu dangdut mbah dukun. Dengan penuh penghayatan serta pandangan syahdu merindu Kaling memetik gitarnya dan menyanyikan lagu ungu. Semua siswa terdiam dan memandang Santi, Santi hanya berdiri mematung tanpa ekspresi. Setelah lagunya berakhir, santi hanya memperlebar garis bibirnya, kemudian menyilangkan jari telunjuknya di dahi dan berlalu dari hadapan Kaling yang ternganga. Seluruh siswa yang menonton kejadian norak tersebut meledak dengan tawa membahana. Tak kulihat perubahan wajah Kaling, dia tetap dengan mata jenakanya dan senyumanya kemudian menghapiriku sembari berkata “dia mencintaiku dalam hatinya, bro” Kalingpun berbalik dan melangkah dengan pasti disampingku bak seorang jendral perang yang ingin menguasai sarang kompeni. Ia lalu menceritakan ide-ide gilanya untuk merebut hati pujaannya. Ekasanti Purnama Dewi, the indifferent girl.

Leave a Reply