Mungkin pernah terpikir bagaimana sih untuk mengetahui apa yang ada di alam pikiran seseorang terlebih lagi tentang diri kita, tentang gagasan kita, atau bahkan pikirannya tentang orang terdekat dengan kita.
Menurut David J. Lieberman, kita dapat melakukan teknik “membaca pikiran” yang sesungguhnya dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa prinsip psikologi. Mungkin kita telah secara tidak sadar melakukannya ketika ada seseorang yang anda duga tidak secara jujur mengatakan sesuatu kepada anda.
Upaya untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikiran seseorang memang tidaklah mudah, kita harus berusaha untuk mengarahkan dia agar mau menyukai apa yang ada dipikiran orang. Begitu dia berkata bahwa dia menyukainya, jangan mendesak atau menekannya karena terkadang inilah kesalahan yang paling sering kita lakukan. Kita biasanya mengatakan “ kamu benar menyukainya? Kamu yakin menyukainya? Kamu benar-benar menyukainya?”. Hal ini akan membuatnya semakin kukuh dengan pendiriannya atau hal yang disampaikannya menjadikannya semakin yakin apa yang menjadi opininya.
Dalam menggunakan teknik ini, anda harus memastikan bahwa kata-kata yang anda gunakan sejalan dengan dia atau apa yang ada dipikirannya dan anda terbuka dengan masukan. Ini menjadikannya terbuka akan segala hal karena akan mengkritik anda dengan bebas karena dia menganggap anda mengharapkannya.
Dua teknik psikologis yang digunakan dalam hal ini menurut David J. Lieberman adalah konsistensi (bahwa manusia membutuhkan kesinambungan dengan pikiran-pikiran mereka) dan harapan (orang sering melakukan apa yang menjadi harapannya).
Dengan mengarahkan pembicaraan yang tidak berfokus pada perasaan suka-tidak suka mereka, maka jawaban mereka akan keluar secara alami sebagai uraian akan apa yang mereka telah katakan, sehingga apa yang ada dibenak mereka akan keluar begitu saja dan tentu saja itulah jawaban jujur dan apa yang ada dipikiran mereka.
Hal yang perlu diingat:
Jika anda ingin mengetahui pikiran sesungguhnya dari seseorang tetapi dia tidak ingin membicarakan keburukan dirinya atau orang lain maka janganlah anda bertanya seperti ini:”Apakah yang tidak kamu sukai dari hal itu?” atau “kekacauan apa yang bisa kamu temukan dari pekerjaannya?” tetapi bertanyalah “Bagaimana jika seandainya kamu yang melakukannya?” atau “apakah akan berbeda jika kamu yang melakukannya?”. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan itu tidak berfokus pada kesalahan yang diperbuat oleh orang lain, tetapi justru menanyakan perbaikan yang bisa dilakukan oleh lawan bicara anda yang mana hal ini memberikan jawaban kepada anda tentang apa yang ada dibenak mereka tentang kesalahan-kesalahan tersebut.
Sehingga kesimpulannya adalah arahkan mereka agar menyukai gagasan, orang atau obyek kemudian tanyakan saja ide perbaikan yang bisa dia tawarkan.
Filed under: My life | Tagged: how to, Pepople Mind




