Jam setengah tujuh terbangun oleh aroma teh yang telah ribuan kali kuteguk dengan beragam cara tetapi dengan hanya setengah sendok gula, yach terkadang ibunda atau si kekasih hati bertanya kenapa gulanya sedikit? Dan dengan jawaban diplomatis selalu kukatakan “yang saya mau minum adalah teh bukan air gula”. Tetapi di rumah bibi hal itu tidak bisa karena selalu suguhan tehnya adalah secangkir teh dengan dua sendok makan gula…
Seperti biasa ritual pagi, bangun tidur bertemu dengan segelas teh dan penganan berganti tiap hari tergantung keadaan keuangan. Pagi ini penganannya adalah “pallu butung” tapi bahannya bukan pisang seperti biasanya melainkan adalah sejenis ubi yang warnanya ungu….
Setelah ritual pagi tersebut, berhubung hari minggu jadi kegiatan agak sedikit longgar, iseng-iseng buka-buka lemari tempat menyimpan buku, mata terpatri di empat buah novel karya andrea hirata, tetralogi laskar pelangi. Rasanya menarik untuk dibaca kembali, kali ini yang kupilih adalah maryamah karpov, tetralogi terakhir dan merupakan yang tertebal diantara keempatnya.
Dengan mengambil posisi paling enak walaupun menurut para pakar kesehatan adalah buruk, yaitu berbaring sambil membaca, maka mulailah membuka halaman demi halaman novel tersebut, rasanya baru saja membuka beberapa halaman maka terpaparkan semua realita yang ada dan menggelitik dengan sentilan-sentilan khas Andrea.
Ku kutipkan sebait kata andrea dalam bab ruang pucat jilid 1 “Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga republik tak berijazah”. Kalimat itu menggelitik dan saya menganggukkan kepala walaupun konteksnya sekarang adalah bersekutu secara tidak resmi dalam persekutuan persaudaraan senasib bagi warga republik yang “bersekolah setengah”, yang artinya tingkat pendidikan mereka adalah kebanyakan warga republik saat ini yaitu mengenyam pendidikan hanya sampai pada strata satu, yang akhirnya membuat warga republik ini merasakan betapa sempitnya pintu lapangan pekerjaan sehingga cepat atau lambat mereka akan diseret hingga berjumpa dengan kenyataan yang dikatakan andrea sebagai “cobaan yang tak tertanggungkan”….
Saya jadi teringat ketika mengikuti sebuah pelatihan, walaupun posisi saya bukan sebagai peserta tetapi sebagai “operator lcd” pembicaranya membicarakan bagaimana melakukan aktualisasi diri, banyak cara untuk bisa “berbuat lebih banyak”, salah satunya adalah kata “Janganlah menjadi pasir dipantai, tetapi jadilah mutiara”. Penjelasan selanjutnya adalah seputar menjadi mutiara bagaimana menjadi seorang yang berbeda dan inovatif. Saya setuju dengan hal tersebut, tetapi tidak semua warga republik ini bisa bermetamorfosa menjadi mutiara, karena sebagian besar adalah orang-orang yang mencapai “ijazah tertinggi” mereka dengan sangat bersusah payah, tidak dalam konteks ilmu tetapi dari konteks “uang”. Mereka harus kreatif untuk bisa mendapatkan selembar kertas berharga tersebut. Dan ketika telah keluar dari lembaga ilmu dan bertemu dengan gerbang kehidupan, maka disanalah mereka secara cepat atau lambat akan bertemu dengan cobaan yang tak tertanggungkan… walaupun demikian saya salut kepada mereka yang tetap berusaha sekuat tenaga mereka walaupun dikangkangi oleh cobaan yang tak tertanggungkan, mereka tetap berusaha dengan memakai semangat warisan nenek moyang yaitu pantang menyerah….seperti selogan orang selatan, “Kualleangi tallanga na towalia”. Lebih baik tenggelam dari pada kembali. (maaf jika bahasa daerahnya kurang benar).
Filed under: Just scrambling thoughts's Tagged: | mutiara, Pasir




